Akhir dari Ketidakmungkinan

2 komentar


Ah sudahlah, yang namanya batu lawan batu mau sampai kapan pun selalu sama hasilnya,` tidak ada yang menang atau kalah hanya meninggalkan seribu pertanyaan dibenak kalian, yang kalian tahu tak akan ada ujungnya nanti. Kapan yah kepala mu bisa selembut kapas itu? Tak usah jauh menjadi selembut kertas saja. Aku yakin, kenapa masih bersifat batu kalau kepala mu masih bisa selembut kertas dan selemah gunting.Jikalau ku ingin  jadi kertas. 

Mudah saja kulakukan. apa sulitnya hanya merubah tangan ku seperti bentuk kertas. Aku bisa menenggelamkan batu secara baik dan pelan tanpa melukai hatimu yang begitu suci sedikitpun. Tapi tidak akan pernah aku lakukan.Maafkan aku, kali ini akulah yang harus berperan menjadi batu lebih kokoh nan kuat darimu. Dan kau. Kau harus rela menjadi kertas. itu adalah peran kau. Bukan peranku lagi. Karna itu, tugasmu saat ini hanya melepaskan ku saja kedasar laut tanpa melukai hati kecilku ini. Air meriak tanda ingin memekaki nafasku dan langkahku. Ku mohon jadilah selembut kertas atau selemah gunting kini waktuku sebentar lagi.Apa yang membuat dirimu tak bisa menjadi kertas itu?ha?ada apa gerangan yang membuatmu takut untuk menjadi selembut kertas? Kenapa dirimu yang ku kenal hilang sirna ditelan penyakit hati begitu saja.Kalau aku bisa ku hanya ingin memanggil hujan. Meskipun peran ku hanyalah sebuah batu yang bercita-cita akan kokoh. Tapi , aku ini akan sirna cepat atau lambat dengan kelembutan kekuatan hujan.  Apalah daya, menjadi selembut kertas saja susah sekali. Cukuplah , hujan menghancurkan-ku agar kau tak perlu menjadi kertas ataupun gunting. Jikalau kau mau.Kepalamu yang selembut kertas itu hanyalah ketidakmungkinan yang selalu ku semogakan. Ketidakmungkinan yang benar-benar dari lubuk sukmaku ini selalu mengharapkannya. Kerasnya kepalamu adalah kelembutan yang tak sampai. Kini yang dulunya sedekat nadi dengan vena bisa sejauh lisan dengan hati. Sampai kapan? Entah lah, izinkan waktu menjawab ini semua. Tetapi Tuhan-ku Maha Tahu. Tuhan ku lebih mungkin dari ketidak mungkinan itu semua. Percayalah.

nb: ini sih sebenernya bahasanya disamarin sengaja di buat majas yang emang buat seseorang. maapin terlalu majas bgt yah.

2 komentar